Sabtu, 26 Januari 2013

JURNAL ILMIAH (REMEDIAL METODE RISET)


Nama : Irna Diniasari
Kelas : 3EA13
NPM : 13210623


TEMA : KEPUTUSAN PEMBELIAN



Analisis Pengaruh Citra Merek, Harga, dan Kualitas Produk
Terhadap Keputusan Pembelian Notebook Toshiba



BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang Penelitian
          Perkembangan bisnis teknologi informasi telah merubah trend pembelian di masyarakat. Komputer desktop kini tidak lagi menjadi primadona bagi masyarakat luas dan tergantikan oleh munculnya laptop yang kini kita kenal dengan istilah notebook. Masyarakat lebih cenderung memilih komputer yang portabel dan mudah dibawa kemanapun agar dapat membantu mereka dalam beraktifitas dengan lebih bebas. Di sisi lain, terjadinya evolusi internet menjadi era web yang semula hanya berupa halaman statis kini mendukung kemampuan tampilan yang dinamis, menekankan pada halaman web yang interaktif, modern, cepat dan efisien telah mendorong terciptanya era sosial media yang menjadi sebuah budaya dalam masyarakat dimana konsumen adalah pemeran utama didalamnya. Setiap orang kini dapat selalu eksis di internet saat mereka berada dimanapun dengan adanya bantuan notebook.

Indonesian Customer Satisfaction Index Kategori Notebook Tahun 2009-2010
Merek
Total Satisfaction Score
Peringkat
2009
2010
2009
2010
Acer
4.196
4.240
1
1
Toshiba
4.187
4.076
2
2
Apple
3.918
3.997
5
3
Dell
4.177
3.992
3
4
Axioo
3.914
3.950
6
5
Sony
3.986
3.949
4
6
Hp
3.782
3.871
7
7
Asus
3.6
3.581
-
8
Sumber:Swa sembada,diolah, 2012

         Tabel tersebut diketahui bahwa di tahun terakhir yaitu pada dua tahun berturut-turut dari tahun 2009-2010, notebook Toshiba berada di peringkat kedua. Meskipun notebook Toshiba sanggup bertahan di peringkat kedua, namun pada tahun 2010 terjadi penurunan Total Satisfaction Score notebook Toshiba sebesar 0,111 dari tahun 2009. Sedangkan notebook Acer yang berada di peringkat pertama dari tahun 2009-2010 justru mengalami kenaikan Total Satisfaction Score sebesar 0,044, sama halnya dengan notebook HP yang berada di peringkat ketujuh pada dua tahun berturut-turut dengan kenaikan sebesar 0,089. Kenaikan Total Satisfaction Score juga terjadi pada notebook Apple dan Axioo, namun peringkatnya justru turun. Berbeda dengan notebook Apple dan Axioo, Dell dan Sony justru mengalami kenaikan peringkat, namun Total Satisfaction Score dua notebook tersebut menurun. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini akan memfokuskan pada citra merek, harga, dan kualitas produk.


1.2.  Rumusan Masalah
          Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah terdapat pengaruh signifikan antara variabel citra merek terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba ?
2.    Apakah terdapat pengaruh signifikan antara variabel harga terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba ?
3.    Apakah terdapat pengaruh signifikan antara variabel kualitas produk terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba ?
4.    Apakah terdapat pengaruh signifikan dari variabel citra merek, harga, dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba ?


1.3.  Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui pengaruh signifikan antara variabel citra merek terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba.
2.    Untuk mengetahui pengaruh signifikan antara variabel harga terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba.
3.    Untuk mengetahui pengaruh signifikan antara variabel kualitas produk terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba.
4.    Untuk mengetahui pengaruh signifikan dari variabel citra merek, harga, dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba.


1.4.  Metode Penelitian
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis memperoleh bahan-bahan penulisan dengan cara:
1.    Studi Pustaka
Yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, majalah, dan referensi pihak lain dapat menunjang penelitian ini.
2.    Studi Lapangan
Yaitu data yang diperoleh dari jawaban para responden terhadap rangkaian pertanyaan yang digunakan oleh peneliti.



BAB II
LANDASAN TEORI


2.1.  Kerangka Teori
2.1.1  Pengertian Pemasaran
          Pengertian pemasaran menurut Kotler (1997:8) adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Pemasaran melibatkan banyak individu dan organisasi dalam situasi yang berbeda-beda. Tetapi mereka semuanya sama, yaitu melibatkan satu atau lebih individu atau organisasi dengan membujuk orang lain untuk melakukan sesuatu. Pemasaran dalam pengertiannya yang paling luas didefinisikan sebagai semua kegiatan yang dirancang untuk mendorong dan mengelola segala pertukaran untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan kita.


2.1.2  Perilaku Konsumen
          Menurut Kotler (2002:182) Bidang ilmu perilaku konsumen mempelajari bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, memakai serta memanfaatkan barang, jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka. Menurut Lamb (2001:188) Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana konsumen membuat keputusan-keputusan pembelian dan bagaimana mereka menggunakan dan mengatur pembelian barang atau jasa.


2.1.3  Citra Merek (Brand Image)
          Brand image (citra merek) merupakan keseluruhan persepsi terhadap suatu merek yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu. Brand image dibangun berdasarkan kesan, pemikiran ataupun pengalaman yang dialami seseorang terhadap suatu merek yang pada akhirnya akan membentuk sikap terhadap merek yang bersangkutan (Setiadi, 2003:180). Brand image adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat dibenak konsumen (Rangkuti,
2004:244).


2.1.4  Harga
          Tjiptono (2007:467) harga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang membutuhkan pertimbangan cermat. Ini dikarenakan adanya sejumlah dimensi strategik harga dalam hal:
a.    Harga merupakan pernyataan nilai dari suatu produk. Nilai adalah rasio atau perbandingan antara persepsi terhadap manfaat dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk.
b.    Harga merupakan aspek yang tampak jelas bagi para pembeli. Bagi konsumen yang tidak terlalu terlalu paham hal-hal teknis pada pembelian produk otomotif dan elektronik, kerap kali harga menjadi faktor yang dapat mereka mengerti. Tidak jarang pula harga dijadikan semacam indikator kualitas.
c.    Harga adalah determinan utama permintaan. Berdasarkan hokum permintaan, besar kecilnya harga mempengaruhi kuantitas produk yang dibeli konsumen. Semakin mahal harga, semakin sedikit jumlah permintaan atas produk bersankutan dan sebaliknya.
d.  Harga berkaitan langsung dengan pendapatan dan laba. Harga adalah satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan bagi perusahaan yang pada gilirannya berpengaruh pada besar kecilnya laba dan pangsa pasar yang diperoleh.
e.   Harga bersifat fleksibel, arinya dapat disesuaikan dengan cepat, dari empat unsur bauran pemasaran tradisional, harga adalah elemen yang yang paling mudah diubah dan diadaptasikan dengan dinamika pasar.
f.   Harga mempengaruhi citra dan strategi positioning. Dalam pemasaran produk prestisius yang mengutamakan citra kualitasdan eksklusivitas, harga menjadi unsur paling penting.
g.    Harga merupakan masalah nomor satu yang dihadapi manajer.


2.1.5  Kualitas Produk
          Menurut Kottler dan Amstrong (2001) kualitas adalah karakteristik dari produk dalam kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat laten. Sedangkan menurut Garvin dan A Dale Timpe (1990) kualitas adalah keunggulan yang dimiliki oleh produk tersebut. Kualitas dalam pandangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal kualitas sebenarnya. Kualitas produk dibentuk oleh beberapa indikator antara lain kemudahan penggunaan, daya tahan, kejelasan fungsi, keragaman ukuran produk dan lain-lain. Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standarisasi kualitas. Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang telah diterapkan sehingga kinsmen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan.


2.1.6  Keputusan Pembelian
          Menurut Schiffman, Kanuk (2004:547), keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternative pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, harus tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah pada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Proses pengambilan keputusan pembelian yang akan dilakukan oleh konsumen yang akan melalui beberapa tahap, antara lain sebagai berikut (Kotler,2000).

Tahapan Proses Pengambilan Keputusan Pembelian


2.2.  Kajian Sejenis
1.      Peneliti : Praba Sulistyawati
Tahun : 2011
Judul : “Analisis Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Laptop Merek Acer di Kota Semarang”
Variabel : Citra merek dan kualitas produk (independen), keputusan pembelian (dependen)
Hasil : Ada pengaruh signifikan dari citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian

2.      Peneliti : Desi Apriyanty
Tahun : 2011
Judul : “Analisis Pengaruh Psikologis, Produk dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Laptop di Lingkungan Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya”
Variabel : Faktor psikologis konsumen, produk, dan harga (independen), keputusan pembelian (dependen)
Hasil : Ada pengaruh signifikan dari faktor psikologis konsumen, produk, dan harga terhadap keputusan pembelian


2.3.  Alat Analisis
1.    Analisis Regresi Berganda
       Digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y), (Rangkuti, 1997: 149). Rumus yang digunakan dalam regresi berganda yaitu:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Keterangan:
Y         = Keputusan pembelian
a          = Konstanta
b1…b3  = Koefisien regresi berganda
X1        = Variabel produk
X2        = Variabel harga
X3        = Variabel gaya hidup
e          = Standart error



BAB III
METODE PENELITIAN


3.1.  Sampel Penelitian
          Sampel dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Gunadarma Depok Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Kelas 4EA01 s/d 4EA07 sebanyak 100 orang responden.

3.2.  Data yang Digunakan
          Data primer dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari jawaban para responden terhadap rangkaian pertanyaan yang digunakan oleh peneliti. Sedangkan responden yang menjawab daftar kuesioner tersebut adalah Mahasiswa Gunadarma Depok yang membeli atau pernah membeli notebook Toshiba.
          Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data penjualan Notebook di Indonesia pada tahun 2010-2011 yang diperoleh dari International Data Corporation dan Majalah SWA SEMBADA.

3.3.  Metode Pengumpulan Data
          Untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan dalam penulisan, pengambilan data-data tersebut dengan cara:
  1. Data Primer yaitu data yang diperoleh dari jawaban para responden terhadap rangkaian pertanyaan yang digunakan oleh peneliti.
  2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, majalah, dan referensi pihak lain dapat menunjang penelitian ini.

3.4.  Alat Analisis yang Digunakan
          Penulis menggunakan penghitungan statistik berdasarkan jawaban kuisioner dari responden yaitu dengan menggunakan uji validitas dan realiabilitas untuk menguji apakah item-item pertanyaan layak atau tidak untuk digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian ini, setelah itu dilakukan uji asumsi klasik (normalitas, multikolonieritas, heterokedastisitas) setelah melakukan uji asumsi klasik penulis lalu menganalisis dengan metode regresi linier berganda. Untuk mengetahui signifikansi dalam penelitian ini maka diperlukan uji hipotesis (Uji t, Uji F, dan Uji koefisien Determinasi).
1.    Analisis Regresi Berganda
Digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y), (Rangkuti, 1997: 149). Rumus yang digunakan dalam regresi berganda yaitu:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Keterangan:
Y         = Keputusan pembelian
a          = Konstanta
b1…b3  = Koefisien regresi berganda
X1        = Variabel produk
X2        = Variabel harga
X3        = Variabel gaya hidup
e          = Standart error



BAB IV
PEMBAHASAN


4.1.  Pembahasan
          Secara umum penelitian ini menunjukkan kondisi penilaian responden terhadap variabel-variabel penelitian ini sudah baik. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya tanggapan kesetujuan yang tinggi dari responden terhadap kondisi masing-masing variabel penelitian. Dari hasil hasil tersebut selanjutnya diperoleh bahwa tiga variabel independen yaitu citra merek, harga, dan kualitas produk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba di universitas Gunadarma Depok. Penjelasan dari masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut:
1.    Berdasarkan analisis secara parsial, ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa semua variabel independen (Citra merek, harga, dan kualitas produk) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba di Universitas Gunadarma Depok. Ketiga variabel independen tersebut dianggap penting ketika akan membeli notebook Toshiba. Dilihat dari segi pemasaran, perusahaan dapat memperhatikan ketiga faktor tersebut sehingga penjualan produk notebook di tahun yang akan datang akan semakin meningkat.
2.    Berdasarkan pengujian secara simultan, ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa semua variabel independen (Citra merek, harga, dan kualitas produk) secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembelian. Jadi, ketiga variabel tersebut secara bersama-sama sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba.
3.    Hasil pengujian regresi berganda menunjukkan bahwa semua variabel independen (Citra merek, harga, dan kualitas produk) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Pengaruh positif terbesar terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba di Universitas Gunadarma Depok adalah pada variabel kualitas produk (X3). Kualitas produk adalah suatu penilaian konsumen akan keunggulan ataupun keistimewaan secarah menyeluruh terhadap suatu produk (Zeithaml, 1988), oleh karena itu perusahaan dapat meningkatkan kualitas produk dari produk yang dibuatnya sehingga dapat meningkatkan penjualan dan meningkatkan dan dapat meningkatkan keuntungan perusahaan. Variabel kedua yaitu variabel Citra Merek (X1), Citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat dibenak konsumen (Rangkuti, 2004 : 244). Toshiba Corporation adalah salah satu perusahaan diversifikasi produsen dan pemasar produk digital, perangkat elektronik dan komponen, sistem infrastruktur sosial dan Home appliances. Toshiba Corporation juga merupakan inovator kelas dunia dan pemimpin produk teknologi terdepan sehingga Citra merek dari perusahaan ini sudah sangat dikenal oleh banyak konsumennya. Variabel yang terakhir yaitu adalah variabel harga (X3). Harga merupakan salah satu faktor penentu dalam pemilihan merek yang berkaitan dengan keputusan membeli konsumen. Harga juga merupakan variabel penting yang digunakan oleh konsumen karena berbagai alasan, baik karena alasan ekonomis yang akan menunjukkan bahwa harga yang rendah atau harga yang selalu berkompetisi merupakan salah satu variabel penting untuk meningkatkan kinerja pemasaran, sehingga variabel harga harus lebih diperhatikan oleh perusahaan agar dapat meningkatkan penjualan produk dan dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.



BAB V
PENUTUP


5.1.  Kesimpulan
          Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut:
1.    Citra merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba
2.    Harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba
3.    Kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba
4.    Citra merek, harga, dan kualitas produk secara bersama-sama berpengaruh signfikan terhadap keputusan pembelian notebook Toshiba

5.2.  Saran
          Setelah penulis simpulkan secara garis besar, penulis mencoba untuk memberikan sumbangan saran yang mungkin berguna antara lain:
1.    Perusahaan harus mampu mempertahankan image Toshiba yang sudah dikenal baik oleh para konsumennya.
2.    Perusahaan diminta untuk meningkatkan kualitas produknya dengan harga jual yang lebih terjangkau supaya konsumen tidak beralih ke produk sejenis lainnya dan juga agar dapat bersaing dengan perusahaan sejenis lainnya.
3.    Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah atau menggunakan variabel-variabel independen lainnya yang potensial memberikan kontribusi terhadap keputusan pembelian pada produk Notebook Toshiba.



Sumber:
http://eprints.undip.ac.id/26500/1/Jurnal_Fix.pdf
http://olahdatapenelitian.wordpress.com/category/latar-belakang-penelitian/
http://orasibisnis.files.wordpress.com/2012/05/desi_aprianti_analisis-pengaruh-psikologis-produk-dan-harga.pdf.
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/6152/1/jurnal.pdf

Kamis, 03 Januari 2013

PENGARUH SITUASI



Nama : Irna Diniasari
Kelas : 3EA13
NPM : 13210623




BAB 14
PENGARUH SITUASI




  
·      Tipe-Tipe Situasi Konsumen
Pengaruh situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Situasi konsumen adalah faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
Tipe-tipe situasi konsumen:
1.    Situasi komunikasi
Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui:
a.    Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
b.    Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah, poster, billboard, brosur, leaflet, dsb
c.    Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promos penjualan, pengumuman di rak dan di depan took
2.    Situasi Pembelian
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian, misal: ketika konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain.
3.    Situasi Pemakaian
Situasi Pemakaian disebut juga situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi. Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga.

·      Interaksi Individu dengan Situasi
Memahami serta menganalisis pengaruh situasi dalam proses pembelian barang, banyak konsumen yang di pengaruhi oleh variasi dari situasi lain yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu. Belum tentu saat orang lain menggunakan produk A saat ia berjemur di pantai tapi bisa saja orang lain menggunakan produk A sebagai lotion untuk ke kantor atau kemanapun ia pergi tidak harus saat berjemur saja. Jadi penggunaan produk tertentu tidak hanya pada satu situasi saja tapi bisa untuk situasi lain untuk orang lain.

·      Pengaruh Situasi Tak Terduga
Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.

Berikut ini adalah 5 karakteristik situasi pembelian:
1.    Lingkungan Fisik
Sarana fisik yang menggambarkan situasi konsumen yang meliputi: lokasi, dekorasi, aroma, cahaya, cuaca dan objek fisik lainnya yang ada di sekeliling konsumen.
2.    Lingkungan Sosial Kehadiran dan ketidakhadiran orang lain pada situasi tersebut.
3.    Waktu
Waktu atau saat perilaku muncul (jam, hari, musim libur, bulan puasa, tahun baru). Waktu mungkin diukur secara subjektif berdasarkan situasi konsumen, misal kapan terakhir kali membeli biskuit. Arti kapan terakhir kali akan berbeda antar konsumen.
4.    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada suatu situasi. Konsumen yang belanja untuk hadiah akan menghadapi situasi berbeda dibandingkan belanja untuk kebutuhan sendiri.
5.    Suasana Hati
Suasana hati atau kondisi jiwa sesaat (misalnya perasaan khawatir, tergesagesa, sedih, marah) yang dibawa pada suatu situasi.

Sumber:
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/11/pegaruh-situasi-konsumen/
http://lidyadewi.wordpress.com/
http://dwiariyani99.blogspot.com/2012/11/pengaruh-situasi-konsumen.html

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA


Nama : Irna Diniasari
Kelas : 3EA13
NPM : 13210623


BAB 13
PENGARUH KELUARGA
DAN RUMAH TANGGA






·      Keluarga dan Studi Tentang Perilaku Konsumen
Studi tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen. Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan, yaitu:
1.    Banyak produk yang dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk yang dibeli oleh kedua pasangan, barangkali dengan melibatkan anak, kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya dibeli oleh keluarga, dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja mereka terlibat dalam pelbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak anggota keluarga yang membeli pelbagai barang rumah tangga, busana, dan barangkali bahan makanan. Perjalanan tersebut mungkin pula melibatkan semua anggota dalam memutuskan di restoran fast-food mana untuk membelanjakan pendapatan keluarga yang dapat digunakan.
2.    Ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam keluarganya. Anak-anak mungkin membeli pakaian yang dibiayai dan disetujui oleh orang tua. Pengaruh seorang remaja mungkin pula besar sekali pada pembelian pakaian orangtua. Pasangan hidup dan saudara kandung bersaing satu sama lain dalam keputusan tentang bagaimana pendapatan keluarga akan dialoksikan untuk keinginan individual mereka. Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swlayan, tetapi dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga. Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen benar-benar meresap.

·      Penentu Keputusan Pembelian Pada Suatu Keluarga
Keluarga adalah “pusat pembelian” yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh individu yang membentuk keluarga bersangkutan. Individu membeli produk untuk dipakai sendiri dan untuk dipakai oleh anggota keluarga yang lain.
Keputusan konsumsi keluarga melibatkan setidaknya lima peranan yang dapat didefinisikan. Peranan-peranan ini mungkin dipegang oleh suami, istri, anak, atau anggota lain dalam rumah tangga. Peranan ganda atau aktor ganda adalah normal.

1.    Penjaga pintu (gatekeeper). Inisiator pemikiran keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan.
2.    Pemberi pengaruh (influencer). Individu yang opininya dicari sehubungan dengan kriteria yang harus digunakan oleh keluarga dalam pembelian dan produk atau merek mana yang paling mungkin cocok dengan kriteria evaluasi itu.
3.    Pengambil keputusan (decider). Orang dengan wewenang dan / atau kekuasaan keuangan untuk memilih bagaimana uang keluarga akan dibelanjakan dan produk atau merek mana yang yang akan dipilih.
4.    Pembeli (buyer). Orang yang bertindak sebagai agen pembelian: yang mengunjungi toko, menghubungi penyuplai, menulis cek, membawa produk kerumah, dan seterusnya.
5.    Pemakai (user). Orang yang menggunakan produk.

Pemasar perlu berkomunikasi dengan pemegang masing-masing peranan. Anak misalnya, adalah pemakai serealia, mainan, pakaian, dan banyak produk lain, tetapi mungkin bukan pembeli. Salah satu atau kedua orangtua mungkin merupakan pengambil keputusan dan membeli, walaupun anak mungkin penting sebgai pemberi pengaruh dan pemakai.

Peranan memberi pengaruh mungkin dipegang oleh orang yang paling ahli. Sebagai contoh, orangtua mungkin menjadi pengambil keputusan mengenai mobil mana yang mereka akan beli, tetapi remaja kerp memainkan peranan utama sebagai penjaga pintu informasi dan sebagai pemberi pengaruh karena pengetahuan yang lebih banyak mengenai unjuk kerja, cirri produk, atau norma social.

·      Family Life Cycle (FLC)
Family life cycle dapat diartikan sebagai gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga. FLC terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.

FLC tradisional yaitu pergerakan tahap yang sebagian besar keluarga lewati, dimulai dari belum menikah (bujangan), menikah, pertumbuhan keluarga, penyusutan keluarga, dan diakhiri dengan putusnya unit dasar. Tahapan dari FLC model adalah:
1.    Stage I: Bachelor – pemuda/I single dewasa yang hidup berpisah dengan orang tua.
2.    Stage II: honeymooners – pasangan muda yang baru menikah.
3.    Stage III: parenthood – pasangan yang sudah menikah setidaknya ada satu anak yang tinggal hidup bersama.
4.    Stage IV: postparenthood –sebuah pasangan menikah yang sudah tua dimana tidak ada anak yang tinggal hidup bersama.
5.    Stage V: dissolution – salah satu pasangan sudah meninggal.

FLC Non-traditional, yaitu:
1.    Family household
a.    Childless couples – pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dikarenakan oleh pasangan tersebut lebih memilih pada pekerjaan.
b.    Pasangan yang menikah diumur diatas 30 tahun – menikah terlalu lama dikarenakan karir dimana memutuskan untuk memiliki sedikit anak atau justru malah tidak memiliki anak.
c.    Pasangan yang memiliki anak di usia yang terlalu dewasa (diatas 30 tahun).
d.   Single parent I – single parent yang terjadi karena perceraian.
e.    Single parent II – pria dan wanita muda yang mempunyai satu atau lebih anak diluar pernikahan.
f.     Single parent III – seseorang yang mengadopsi satu atau lebih anak.
g.    Extended family – seseorang yang kembali tinggal dengan orang tuanya untuk menghindari biaya yang dikeluarkan sendiri sambil menjalankan karirnya. Misalnya anak, atau cucu yang cerai kemudian kembali ke rumah orang tuanya.
2.    Non family household
a.    Pasangan tidak menikah
b.    Perceraian tanpa anak
c.    Single person – orang yang menunda pernikahan atau bahkan memutuskan untk tidak menikah
d.   Janda atau duda

·      Perubahan Struktur Keluarga dan Rumah Tangga
Industrialisasi telah membawa pengaruh signifikan dalam perubahan struktur keluarga di Indonesia. Sebelum berkembangnya industrialisasi di Indonesia struktur keluarga terdiri dari keluarga besar yaitu keluarga yang terdiri dari kakek, nenek, anak, suami dan cucu-cucunya atau bisa disebut dengan keluarga dengan beberapa generasi dalam satu atap. Setelah industrialisasi berkembang di Indonesia menyebabkan orang-orang desa pindah ke kota dengan alasan meningkatkan ekonomi keluarga sehingga lambat laun keluarga besar pun semakin menipis hingga akhirnya terbentuk keluarga kecil. Keluarga kecil ini pun salah satunya terbentuk akibat adanya program keluarga berencana yang diciptakan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat agar menjadi keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Dan saat ini muncul pula fenomena struktur keluarga kecil dengan tipe single perent yang terjadi akibat moral masyarakat yang lemah.

·      Metode Riset untuk Mengetahui Pengambil Keputusan oleh Keluarga
Kerangka Proses Keputusan
Studi mengenai struktur peran kerap memandang pembelian sebagai tindakan ketimbang proses dan mendasarkan temuan pada pernyataan seperti “siapa biasanya yang menambil keputusan pembelian?” atau “siapa yang mengambil keputusan ?”. Namun, bukti tersebut menunjukkan bahwa peranan dan pengaruh anggota keluarga bervariasi menurut tahap di dalam proses keputusan.
Sebuah contoh dari metodologi proses diberikan oleh Wilkes, yang merasa bahwa pernyataan berikut ini berguna untuk mengukur pengaruh keluarga :
1.    Siapa yang bertanggung jawab untuk pengenalan awal?
2.    Siapa yang bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai alternative pembelian?
3.    Siapa yang mengambil keputusan akhir mengenai alternative man yang harus dibeli?
4.    Siapa yang membuat pembelian actual terhadap produk?
Hasil yang lebih baik diperoleh dengan menggunakan metodologi ini dibandingkan dengan ukuran yang lebih global. Suami dan istri lebih mungkin menganut persepsi yang sama mengenia pengaruh relative mereka untuk fase tertentu daripada bila pengajuan pertnyaan gagal menanyakan tentang tahap-tahap keputusan.


Sumber:
http://blapah-coklat.blogspot.com/2010/03/perilaku-konsumen.html
http://orangstres76.wordpress.com/2012/11/20/family-decision-making-and-consumption-related-roles/
http://junsu.blog.fisip.uns.ac.id/2011/07/01/perubahan-struktur-sosial-dalam-keluarga/